Sunday, April 29, 2012


Di kawasan Tanah Abang, banyak sekali pedagang dari beberapa daerah.Saya berhasil mewawancarai salah satunya.

Saya:Permisi Bu.
Narasumber:Iya,ada apa mas?
Saya:Begini Bu,saya ada tugas dari kampus untuk menanyakan  tentang masyarakat yang ada di tanah abang,ibu bisa bantu saya?
Narasumber:Insyallah mas.
Saya:Alhamdulillah.Oh iya,kita belum kenalan bu,nama saya Tito dari Universitas Gunadarma.
Narasumber:Nama saya ibu Ani .Mas Gunadarma yang di Depok ya?
Saya:Bukan bu,tapi yang di bekasi.
Narasumber:Oh bekasi,dulu ibu tinggal di sana mas.
Saya:Daerah mana bu?
Narasumber: Kranji.
Saya:Oh di situ,ngomong-ngomong ibu kenapa pindah ke sini?
Narasumber:Soalnya ibu punya toko di tanah abang,kalau dari bekasi berangkatnya jauh.
Saya : Dari tahun berapa ibu pindah kesini ?
Narasumber : Dari tahun 2000 mas…
Saya: Owh, lumayan juga yah bu, sudah 11 tahun. Owya, Memang ibu punya toko apa di tanah abang?
Narasumber:ibu punya toko kain
Saya:Oh,kain belinya meteran kan bu?
Narasumber:Iya mas,tapi tergantung bahannya juga.
Saya:Biasanya laku berapa bu sehari?
Narasumber:Alhamdulillah,biasanya laku 150.000-500.000.Yang penting cukup buat makan keluarga.
Saya : bagaimana hubungan dengan masyarakat yang juga berdagang di sini bu ?
Narasumber : ya sangat baik hubungannya mas seperti pedagang yang lainnya.
Saya:Oh,anak ibu ada berapa?
Naraumber:4 mas.
Saya:Wow,umur berapa aja bu?
Narasumber:18,15,13,3.
Saya:Yang wanita berapa dan yang pria berapa?
Narasumber:ada dua mas yang wanita,kenapa mas?
Saya:Enggak,nanya aja bu.Oh iya,bayar uang sewa di rusun ini berapa bu?
Narasumber:300.000/bulan.
Saya:Baiklah terimakasih atas waktunya bu,saya berharap usaha yang ibu lakukan lebih sukses dan tambah berkembang lagi.
Narasumber:Amin.Sama-sama mas,mudah-mudahan cepat lulus kuliah.
Saya:Amin Ya Allah.Bu,boleh minta fotonya?
Narasumber:Buat apa mas?
Saya:Buat di taruh di internet. 
Narasumber:Enggak usah mas,malu.
Saya:Oh ya sudah,makasih ya bu.
Narasumber:Iya sama-sama.


Nama: Tri Budi Mantoro
Kelas : 1IC04
NPM : 28411063

Saturday, April 14, 2012


Seting Ulang Gigi Rasio Hubungan Pelek dan Rasio 
Article Date: 
Source: Motor Plus Online
Penggila adu kebut bahkan penggemar modifikasi, suka mengganti lingkar roda skubek alias skuter bebek. Entah pakai yang lebih besar ataupun lebih kecil. Alasannya buanyak! Bisa karena ikuti virus alias tren modif, atau semata mengejar akselerasi. 

Photobucket 

“Tapi, ketika lingkar roda (pelek) sudah berubah, harus ada yang disesuaikan lagi. Salah satunya, gigi rasio,” ujar Nanang Gunawan, pemilik MCC Motorsport di Jl. Batu Ampar I, No. 100, Condet, Jakarta Timur. 

Karena menurut pria yang paham luar kepala soal rasio sekaligus bikin gigi rasio ini, perhitungan motor berlari bakal berbeda. Ya! Beda ketika pakai lingkar roda 14 inci diubah jadi 17 inci. Begitu juga sebaliknya. 

Photobucket 

“Terlihat jelas, ketika motor itu berakselerasi. Dalam kondisi mesin standar ataupun bore up, lingkar roda 14 inci akan lebih cepat daripada pelek 17 inci,” tambah pria yang katanya udah banting tulang riset gigi rasio untuk pasukan tim balap Suzuki ini. 

Photobucket 

Namun akibat penggantian dari roda kecil jadi besar tetap akan berisiko. “Akselerasi lebih berat tapi top speed akan lebih tinggi,” timpal Cokky, pemilik JP Racing Bintaro. Doi ini, juga kerap main skubek di balap pasar senggol. So, paham juga soal rasio. 

Maka itu kedua pria ini menyarankan ketika mesin sudah bore up dan lingkar roda diganti, rasio harus diubah. Jangan cuma ganti roller aja. Bisa pakai rasio lebih enteng atau berat, tergantung kebutuhan. 

Tapi ketika menaikan atau menurunkan rasio, kagak boleh sembarang! Apalagi di skubek! Kalau di bebek atau sport, ada final gear buat transfer daya. Tapi buat skubek, ada rolleryang juga berfungsi mirip final gear. 

“Perhitungan lainnya, pastikan power mesin. Tenaga mesin besar, tentu beda dengan tenaga mesin kecil,” sahut Nanang yang tengah riset gigi rasio buat skubek juga. Ya! Logikanya, tenaga mesin besar tentu bisa menghantar motor lebih cepat sampai target ketimbang mesin kecil. Pakai rasio terlalu enteng, nafas motor jadi lebih cepat habis. 

Photobucket 

Pakai rasio berat, buat awalan motor jadi lebih lama. Bingung? Jangan! Nih, kita coba hitung bareng aja yuk! 

Ambil contoh di Yamaha Mio. Gigi rasio standar skubek pabrikan garputala ini, pakai 13/40 mata. Ketika pakai pelek 14 inci, maka perhitungan rasio menjadi 13/10=14/X. Maka X = 43,076. Nah, begitupun ketika skubek sudah ganti ban 17 inci. Hitungan X harus 43,076. 

Soalnya kalau pakai 17 inci namun rasionya sama. Angka jadi bertambah besar alias berat. Ya, 13/40=17/X X = 52,307. Nah, ini penyebabnya skubek lambat berlari ketika ganti pelek lebih besar namun top speed tetap lebih besar. 

Nah, biar lebih mantap alias lari melaju. Enggak salah kalau ganti rasio sesuai. Di pasaran, sudah mulai ada gigi rasio aftermarket. Harga jual, mulai dari Rp 350 ribuan, tergantung merek. 

Tanpa sebut merek, ada dua gigi rasio ditawarkan. Ya, ukuran 15/40 mata dan 15/39 mata. Kedua rasio ini, bisa menjawab kekurangan skubek berpelek 17 inci. Itu karena perhitungan rasio, rada mirip dengan gigi rasio standar. 

Hitung? Oke! 15/40=17/X jadi X = 45,333. Tapi kalau mau lebih enteng lagi, silakan pakai yang ukuran 15/39. Karena hasilnya, 15/39=17/X maka X = 44,155. Begitunya, putaran roda lebih besar, biar akselerasi juga lebih sip!